Surat resmi dapat terdengar formal, tetapi maksudnya tetap kabur jika tujuan, penjelasan, dan akhir pesannya bercampur. Bahasa resmi digunakan dalam komunikasi resmi, termasuk surat-menyurat dinas, sebagai sarana interaksi yang berkaitan dengan pelaksanaan fungsi suatu jabatan [1]. Agar alur pesannya mudah diikuti, susunan tujuan, isi, dan penutup dapat dipakai sebagai kerangka editorial: tiap bagian mengerjakan hal yang berbeda.
Tujuan membuka arah surat
Bagian tujuan menjawab dua hal: mengapa surat disampaikan dan apa inti yang perlu dipahami pembaca. Letakkan maksud utama dengan jelas, misalnya memberi pemberitahuan, mengajukan permintaan, atau menyampaikan informasi. Jika surat meminta tindakan atau keputusan, nyatakan pula apa yang diharapkan.
Tujuan yang muncul sejak awal memberi pegangan untuk membaca rincian berikutnya. Tanpa arah yang jelas, pembaca harus menebak sendiri hubungan antara latar belakang dan pesan utama.
Isi memberi penjelasan yang diperlukan
Isi mengembangkan tujuan dengan rincian yang mendukungnya. Pilih informasi yang membantu pembaca memahami pokok surat; latar belakang, data, atau keterangan waktu dapat dicantumkan jika memang relevan. Urutkan penjelasan agar hubungan antara konteks dan maksud surat tidak tersamar oleh detail yang kurang penting.
Kerangka sederhana untuk memeriksa bagian ini ialah: apakah informasi yang disampaikan cukup untuk memahami tujuan, dan apakah setiap rincian berkaitan dengan tujuan tersebut? Jika satu paragraf membawa pokok yang berbeda, susun ulang agar tiap gagasan punya tempat yang jelas.
Penutup menuntaskan pesan
Penutup dapat menegaskan tindakan yang diharapkan, menyatakan bahwa informasi telah disampaikan, atau mengakhiri pesan tanpa menambah pokok baru. Fungsinya bukan mengulang seluruh isi, melainkan membuat pembaca paham apakah ada langkah berikutnya atau tidak.
Karena itu, penutup sebaiknya selaras dengan tujuan. Permintaan dapat diakhiri dengan penegasan tentang respons yang diharapkan; pemberitahuan yang tidak meminta tindakan dapat ditutup tanpa menciptakan kesan bahwa pembaca harus melakukan sesuatu.
Contoh alur: pemberitahuan perubahan waktu rapat
Dalam contoh hipotetis surat pemberitahuan perubahan waktu rapat, tujuan menyatakan bahwa jadwal berubah. Isi mencantumkan waktu baru serta keterangan yang diperlukan untuk memahami perubahan itu. Penutup menegaskan apakah penerima perlu mengonfirmasi atau cukup mengetahui informasi tersebut.
Contoh itu menunjukkan kegunaan pembagian tujuan, isi, dan penutup: tujuan memberi arah, isi menyediakan penjelasan, sedangkan penutup memastikan pesan sampai pada titik yang tepat. Bahasa formal membentuk nada surat; susunan gagasan membantu maksudnya terbaca.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia β Bahasa resmi. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29796543&title=Bahasa_resmi (diakses 2026-10-04).